Terletak di Garut Selatan, tepatnya di Desa Pakenjeng, Kecamatan
Pamulihan, Curug ini memang agak sulit dijangkau dari Garut Kota. Perlu
sekitar dua jam berkendara dari Garut Kota untuk mencapai Curug ini.
Tapi dua jam perjalanan tersebut sama sekali tidak akan terasa dengan
hamparan pemandangan yang akan kalian lihat.
Hamparan kebun teh yang sangat luas bakal memanjakan mata. Megahnya tampak-belakang dari Gunung Papandayan
bukan pemandangan yang bisa tiap hari dilihat, bahkan oleh orang Garut.
Pemandangan senja di musim panas bakal jadi sangat luar biasa di sini.
Jalanan yang panjang dan sepi membuat sensasi kebebasan dan keindahan
menyatu menjadi memori yang tak kan pernah bisa terlupakan. Akses jalan menuju ke Curug Sanghyang Taraje ini sebenarnya
sudah tergolong sangat baik, hanya di beberapa titik saja yang masih
menggunakan jalan pedesaan yang berbatu. Walaupun demikian, jika ingin
berkendara ke sana, pastikan kendaraan anda dalam kondisi prima. Dan
untuk kendaraan roda empat, lebih baik dititipkan di rumah warga di desa
terakhir karena jalan menuju Curug cukup sempit dan sangat curam.
Tenang saja karena di desa terakhir ini banyak jasa ojek yang siap
mengantar. Semakin mendekat dengan Curug, Travelmate akan melihat tebing
dikejauhan sebelah kanan yang dipisahkan oleh jurang. Jangan terpana
dengan keindahan tebing tersebut, karena Curug akan terlihat di sebelah
kiri di bagian belakang. Ditandai dengan sebuah pos yang terbengkalai.
Dari sini pun Travelmate sudah bisa melihat megahnya Curug Sanghyang Taraje.
Curug dengan ketinggian kurang lebih 100 meter ini memang terlihat seperti sudah pernah dikelola, namun pengelolaan itu seolah terhenti. Fasilitas yang ada disini praktis hanya sebuah shelter, yang ternyata cukup terawat, dan sebuah pos yang terbengkalai. Dari pos ini Travelmate tinggal berjalan kaki sekitar 5 menit untuk mencapai Curug.
Di depan Curug, Travelmate mungkin baru bakal menyadari betapa tingginya Curug Sanghyang Taraje
ini. Titik-titik air yang menyambut Travelmate itu yang bakal
memberitahu. Tidak seperti curug lainnya di Garut, di Curug Sanghyang
Taraje, Travelmate bakal kesulitan untuk mendekati air terjun karena
derasnya air yang menghantam dasar curug; langsung menghadang siapa saja
dengan angin yang bercampur titik-titik air.
Titik-titik air itu jika terkena cahaya matahari akan membentuk
pelangi yang indah. Pelangi yang hanya berjarak beberapa meter dari mata
yang melihatnya. Bagi yang memiliki cita-cita ingin menggapai pelangi
mungkin harus mencoba mengunjungi Curug Sanghyang Taraje, hehe…
Sanghyang Taraje mungkin bisa disebut sebagai alam yang masih asli.
Di sore hari, Travelmate bisa melihat lutung, monyet hitam dengan ekor
yang sangat panjang, bergelantungan di pepohonan di puncak air terjun.
Malah menurut warga sekitar, disini juga masih sering dijumpai
satwa-satwa hutan lain seperti babi hutan, ular, dan kucing hutan.
Menarik bukan?
Untuk melengkapi kunjungan Travelmate, bawalah perbekalan karena tidak ada yang jualan di area curug. Juga bawalah matras agar Travelmate bisa makan-makan atau sekedar bersantai selonjoran di depan Curug. Jangan lupa sampah dibawa lagi. Dan jika ingin berenang, pastikan dulu aman ya. Kebanyakan penduduk sekitar berprofesi sebagai petani. Harga sayur-mayur disini bisa jadi sangat-sangat murah, karena disinilah salah satu sumber awal sayuran di Garut. Penduduk sekitar menggunakan air curug ini untuk pengairan lahan-lahan mereka. Salah satunya karena air di Curug Sanghyang Taraje tidak pernah surut, bahkan di musim kemarau.
Dukung terus Pariwisata Garut ya dulur! Hayu Ka Garut!




siplah boleh buat dilist
BalasHapusMiftah si jomblo abadi
BalasHapusOrang Garut tapi tak tau tempatnya ,malangnya nasibku
BalasHapusMasuk daftar
BalasHapusrecommended pisan
BalasHapusOK
BalasHapusDiditu aya corona eweh
BalasHapusWah air
BalasHapusLgsg cus kesana
BalasHapusUwow :"
BalasHapusMantap tempatnya ,akses kesana gampang ga min
BalasHapusDingin
BalasHapus